Catur (1)
Seandainya kita ditanya apa olahraga paling populer di Indonesia? Tentu saja olahraga sepakbola dan bulutangkis akan menempati urutan teratas dari deretan cabang olah raga lainnya. Meskipun sepakbola adalah olahraga miskin prestasi di Indonesia dan pertandingan liga terbaiknya selalu dihiasi baku hantam, sepakbola menempati hati jutaan manusia Indonesia. Bulutangkis? Indonesia memiliki sejarah yang manis dalam prestasi, dalam beberapa dekade selalu menjadi kampiun dunia, tetapi saat ini justru paceklik prestasi. Cabang olahraga lainnya mungkin akan beragam dan tidak akan memiliki perbedaan signifikan dari sisi popularitas.
Pertanyaannya adalah, di mana posisi olahraga catur? Aku tidak tahu jenis olahraga adu otak ini berada di berapa banyak benak manusia Indonesia. Yang aku tahu pasti, saat ini catur berada di pikiran anakku, Raihan.
Hampir setiap aku pulang kerja, Raihan selalu menungguku untuk bermain catur, minimal 2 babak. Padahal hampir setiap hari aku sampai rumah jam 8-9 malam, dan kami bermain catur setidaknya memakan waktu 1 jam…
Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa Raihan menyukai permainan catur. Seingatku dulu, waktu dia umur 3 tahun, aku pernah membelikan papan catur dan hanya menjadi permainan khas anak-anak usia tersebut yang sesukanya saja tanpa mempedulikan kaidah permainan catur yang njelimet, padahal aku sudah susah payah mengajarinya.
Dua bulan lalu adalah awal dari semua kegilaan catur ini dan sejak saat itu aku mulai berpikir untuk mengarahkan kegemarannya yang terbaru. Masalahnya adalah aku bukan pemain catur betulan. Aku cuma pemain catur kampungan yang belajar otodidak tanpa tahu teori-teori catur yang benar. Dulu sempat pengen belajar catur beneran, tapi tidak tahu mulai dari mana dan ke mana, sehingga akhirnya terlupakan begitu saja oleh kesibukan minat-minat yang lain. Supaya minat catur Raihan tidak sia-sia dan terarahkan dengan baik, aku mulai terpikirkan untuk mencarikan sekolah catur. Maka mulai lah aku bertanya-tanya ke Om Google…
Wah, ternyata di Karawaci, Tangerang tidak ada informasi tentang sekolah catur. Bahkan Percasi Tangerang pun tidak ada info alamatnya, setidaknya aku bisa bertanya tentang sekolah catur di Tangerang. Raihan tidak bisa menunggu, waktu berjalan terus dan tidak boleh ada kesalahan dalam bagaimana belajar catur yang benar.
Aku kembali ke Om Google dan mulailah aku mempersiapkan diriku menjadi guru catur untuk Raihan dengan cara belajar dari ratusan e-book catur yang secara gratis bisa aku unduh. Tidak semua e-book aku baca, aku hanya baca 3 e-book saja, itu pun hanya untuk tahap pembukaan, belum pada tahap-tahap berikutnya.
Rupanya pusing juga belajar sendiri tentang catur, selain bahasa Inggris, aku harus membiasakan diri memahami notasi catur yang seperti rumus-rumus kimia. Permainan catur menggunakan 64 buah bidang kotak hitam dan putih, dan masing-masing kotak memiliki identitas notasi. Demikian juga dengan buah catur, contohnya kuda dengan notasi N, raja dengan notasi K, menteri dengan notasi Q dan seterusnya.
Permainan catur terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap pembukaan, tahap pengembangan dan tahap akhir. Masing-masing tahap bisa terdiri dari beragam jenis permainan dengan nama berbeda-beda. Misalnya untuk pembukaan, buah putih terdapat pembukaan gambit raja, pembukaan hindia, pembukaan ruy lopez, sementara buah hitam terdapat pertahanan sicilia, pertahanan caro kann. Dari setiap jenis pembukaan ini, masih ada lagi beragam varian, misalnya pembukaan terbuka, setengah terbuka, tertutup dan setengah tertutup. Tidak dapat dibayangkan berapa banyak jenis permainan catur ! Dan mengingat hal ini, entah apa isi pikiran seorang Gary Kasparov….
Mengingat demikian rumit dan beragamnya permainan ini, aku putuskan untuk membawa secara santai tatkala bermain catur bersama Raihan. Selain aku sendiri masih belajar, aku tidak mau kerumitan catur akan membuat Raihan jera untuk menggemari olahraga adu otak ini. Pilihan ini akan memberi dampak pada hasil akhir terhadap waktu. Aku tidak tahu dalam waktu berapa lama dan menjadi apa, apabila cara pengajaran ini dilakukan terhadap Raihan. Yang penting adalah aku bisa menghabiskan waktu bermain catur bersama anakku dengan keyakinan bahwa hal ini dilakukan dengan benar.
Yang terbaik memang belajar di sekolah catur. Sambil belajar sendiri, aku akan terus mencari informasi sekolah catur di Tangerang. Aku juga tidak tahu, jangan-jangan kegemaran Raihan ini hanya musiman alias beberapa waktu ke depan dia sudah bosan lagi seperti kebosanannya yang terakhir terhadap taekwondo… Yang pasti, sudah sejak kecil dia tidak bosan bermain sepakbola, di lapangan maupun dalam games…
About this entry
You’re currently reading “Catur (1),” an entry on Catatan untuk Anak-anakku
- Telah Diterbitkan:
- September 11, 2009 / 11:07 am
- Kategori:
- masa-KINI
- Kaitkata:
No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]