Rapor Anakku

Sudah seminggu anakku, Raihan, libur sekolah. Saat ini aku ingat nilai-nilai dalam rapornya. Alhamdulillah, nilai-nilai yang tertera cukup memuaskan. Bahkan bahasa Inggris dapat 10, yang lain di atas 8. Yang membuat tanda tanya justru pelajaran keterampilan. Raihan cuma dapat 7…

Ah…yang bisa kulakukan hanya bertanya-tanya pada Mama-nya, mengapa nilai pelajaran keterampilan dapat 7. Juga aku tanya Raihan langsung. Tentu saja bertanya dengan cara yang sesuai alam pikirnya, artinya bertanya sambil main game PC FIFA08, soalnya kalau tidak begitu, jawabannya pasti : “tidak tahu…”

Hal ini jadi catatan sendiri bagiku. Di sisi lain, mungkin juga “like father, like son…“. Lo? Ya. Waktu aku sekolah dulu, di raporku juga pelajaran keterampilan selalu “unjuk gigi” dengan nilai paling kecil. Mungkin Raihan mewarisi itu….

Ingatanku melayang ke jaman SD dulu. Kalau ada pelajaran keterampilan, pasti selalu repot. Ujung-ujungnya aku lari ke kali di belakang sekolah, di sana mencari-cari tanah liat (lempung)…. Sebenarnya kali tersebut cukup jauh. Melewati rumah penduduk terlebih dulu, setelah itu sampai di jalanan desa di tepi kali, lalu “tuturubun” deh menyusuri tebing kali….sambil cari-cari lempung…

Ada cerita khusus tentang kali ini. Setiap beberapa periode tertentu, sekolah SD ku selalu mengadakan kerja bakti. Kalau tidak disuruh bawa batu-bata satu murid dua biji, ya… apalagi kalau bukan ngangkut pasir dari kali. Biasanya antara kelas 1-6 bergantian antara bawa bata atau pasir. Aku paling sebel kalau kebagian ngangkut pasir dari kali… Capekkk bo…..

U can imagine this….

Lepaskan semua alas kaki kita, karena kita mau nyebur ke kali. Nyeker. Jalan kaki melewati perkampungan selama 10 menit. Turun tebing kali dengan kemiringan antara 45-60 derajat. Turunnya si tidak apa-apa. Naiknya ? Di bahu kita sudah ada sekantong plastik berat 1 kg untuk diangkut sampai sekolah…. Terus bolak-balik sampai setengah hari……!!! Untuk dua rit awal si kita bisa happy sambil bercanda-canda, tapi seterusnya ngos-ngosan dan mulai males……

Kok jadi ngelantur….

Kembali ke laptop….

Pendidikan (di antaranya sekolah), merupakan dasar untuk mempersiapkan manusia sejak dini dalam menghadapi masa berikutnya dalam tahapan hidup di dunia. Terpenting adalah bagaimana manusia yang mengikuti pendidikan tersebut disiapkan secara mental atau psikologis. Nilai-nilai dalam rapor hanyalah satu cara manusia untuk melakukan standardisasi dan kuantifikasi sehingga memudahkan dalam mengatur jenjang pendidikan itu sendiri. Aku cukup lega mendengar “laporan” istriku tentang perkembangan softskill Raihan. Menurut istriku, pilihan sekolah yang kami ambil untuk Raihan belajar tidak salah.

Aku lebih memilih sekolah yang mengutamakan pengembangan softskill anak. Dalam pengertian, anak tidak dibebani oleh hapalan-hapalan yang tidak jelas juntrungannya. Atau anak tidak dibebani dengan waktu tambahan belajar atau les. Aku menolak Raihan ikut les bahasa Inggris, terlalu berat untuk anak umur 6 tahun. Toh, alhamdulillah, tanpa les nilai bahasa Inggris-nya malah dapat 10…Siapa dulu ayahnya (sombong mode: ON).

Anak harus dibiarkan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Orangtua sekedar mengarahkan, memberitahu mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk. Dan, tentu saja sebagai orangtuanya, memberi contoh dengan perbuatan.

Memberi contoh perbuatan adalah hal yang berat bagi orangtua. Setidaknya bagi diriku sendiri. Bayangkan saja, saat Piala Eropa kemarin, aku tidak boleh nonton siaran tunda jam 20.00 karena saat itu Raihan harus belajar…. Kalau siaran langsung dini hari, malah tv yang nonton aku, soalnya aku ketiduran….


About this entry