Aku dan Ibumu

Tidak usah aku ceritakan di mana aku dan ibumu bertemu. Paling tidak untuk saat ini belum waktunya.

Sebagaimana kalian tahu, aku dibesarkan di lingkungan Sunda. Bapak dan ibuku adalah urang Sunda. Kami awalnya tinggal di daerah asal bapak, yaitu Kuningan untuk kemudian saat aku usia 6 tahun pindah ke Majalengka, tempat dari mana ibuku berasal. Sampai aku akhirnya tinggal berpisah dari orangtua untuk melanjutkan sekolah ke SMA, kami masih menetap di Majalengka.

Entahlah, rasanya aku tumbuh besar biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, berbeda, tidak lazim atau apa pun yang tidak umum di mata masyarakat. Yang jelas, ketika aku kuliah ke Bandung, bertemu dan berbaur dengan beragam etnik Indonesia, baru aku dengar stigma-stigma “aneh” tentang masyarakat Sunda. Aku dengar hal-hal yang aku pikir, masak sih? Nampaknya ada stereotip yang menancap dalam pada urang Sunda yang aku sendiri masih suka mempertanyakan. Tapi yang jelas, karena selama proses tumbuh dan dewasaku di lingkungan multi-etnik, aku pada akhirnya memiliki pengetahuan dan wawasan yang jauh lebih luas.

Istriku berasal dari etnik yang campursari. Lima puluh persen batak karena ayahnya bermarga Lubis, tepatnya mandailing tepatnya lagi (katanya) Pakantan, 25% betawi dan 25% aceh. Jadi anak-anakku akan memiliki komposisi, paling tidak Sunda 50%, batak 12,5% dst dst….. Wah, masak kayak gini dikuantifikasi?

Entahlah apa yang menyatukan kami berdua. Sebenarnya kami sama-sama memiliki watak keras. Tentu saja dengan darah Sumatera yang mengalir di istriku, dengan sendirinya kekerasan tersebut sudah ada. Lha, aku sebagai orang Sunda malah terhitung punya watak keras juga. Tapi justru di situlah awal mula aku menyukai istriku. Saat awal kenal dulu, aku suka dengan gaya dia yang keras tapi cekatan, lugas, gesit dan serba ringkas…. Tak tahulah aku, mengapa istriku menerima aku sebagai suaminya. Padahal dia dahulu paling sebal dengan orang Sunda…. Dunia memang punya rahasianya sendiri.

Nah, sampai saat ini, sudah 7 tahun kami menikah, masih pada tahap mencari blending-an yang pas. Kalau chemistry-nya, Insya ALLAH kuat. Tahu kan ? Makanya jangan heran sampai hari ini, kami masih suka berantem, baik yang rame maupun yang diam-diaman…. Tapi, ya itulah kata orang tua, sendok dan garpu suka gemerincing beradu di atas piring…. Meskipun kalau sedang ribut rasanya menderita sekali, tapi setelah baikan, rasanya seperti bulan madu lagi…

Peun.


About this entry