Posted by: ahmadsaef | Mei 5, 2008

Berhenti Sejenak….

Sudah lewat satu bulan aku tidak posting tulisan. Sejak tulisan pertama, banyak yang ingin aku tuangkan, tetapi karena waktu terbatas, semua menjadi angan-angan belaka. Saat ini, meski pikiran masih kosong, aku beranikan untuk mulai ketak-ketik, siapa tahu bisa jadi tulisan yang bermanfaat (pada akhirnya).

Entahlah. Selama satu bulan ini, beragam pengalaman aku lewati dan rasakan. Dari mulai situasi lalu lintas Jakarta yang semakin macet dan semrawut hingga situasi hati dan pikiran yang berputar-putar. Ya. Beberapa waktu ini pikiranku agak carut marut. Utamanya karena aku kembali merenungkan, apa yang aku lakukan selama ini sudah memberikan manfaat terbaik untuk lingkungan? Tentu saja, prioritas adalah untuk keluargaku : istri dan anak-anakku. Aku coba menyusun ulang secara singkat riwayat perjalananku selama ini. Apakah ada artinya untuk mereka? Dalam banyak hal, aku sangat yakin bisa memberikan manfaat, tapi ada satu hal yang kritikal dan krusial –yang meskipun hanya terjadi sekali– justru memberikan dampak tidak baik dan terasa hingga sekarang. Seorang teman, melalui forum friendster, mengatakan : “at least you make the right thing for your life, even sometimes the way you through seemed so rough & difficult :)”

Nah. Pada dasarnya aku pernah mengambil keputusan atas suatu situasi yang aku rencanakan dengan tujuan untuk mengurangi resiko yang mungkin akan aku hadapi bila saatnya tiba. Meskipun aku punya alibi, tetapi yang di luar perkiraanku adalah ternyata aku harus menghadapi resiko lain yang lebih hebat dan memberikan akibat pada keluargaku. Sampai hari ini, aku belum bisa mengembalikan situasi menjadi sama dengan saat aku sebelum mengambil keputusan tersebut. Kami masih belum normal…

Sesungguhnya keputusan itu aku ambil hanya untuk idealisme. Aku ingin mendapatkan kepuasan pribadi dalam hal profesionalisme, karir dan pekerjaan. Sementara di sisi lain, aku khilaf, bahwa aku tidak sendiri lagi. Di belakangku berdiri istri dan dua anakku ikut menanggung akibat yang timbul karena adanya resiko tak terduga. Tak terduga lebih karena aku terlalu pe-de, percaya diri…. Dan hari ini, setelah semua yang kami alami, kami masih harus terus berjuang…

Apapun, aku bersyukur kami –sampai saat ini– berhasil melewati masa-masa penuh resiko tersebut. Banyak hikmah yang aku peroleh. Aku memandang dunia secara berbeda ketimbang waktu sebelumnya.

Ya ALLAH, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin…..

Posted by: ahmadsaef | Maret 28, 2008

Flickr

This is a test post from flickr, a fancy photo sharing thing.

Posted by: ahmadsaef | Maret 28, 2008

Aku dan Ibumu

Tidak usah aku ceritakan di mana aku dan ibumu bertemu. Paling tidak untuk saat ini belum waktunya.

Sebagaimana kalian tahu, aku dibesarkan di lingkungan Sunda. Bapak dan ibuku adalah urang Sunda. Kami awalnya tinggal di daerah asal bapak, yaitu Kuningan untuk kemudian saat aku usia 6 tahun pindah ke Majalengka, tempat dari mana ibuku berasal. Sampai aku akhirnya tinggal berpisah dari orangtua untuk melanjutkan sekolah ke SMA, kami masih menetap di Majalengka.

Entahlah, rasanya aku tumbuh besar biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, berbeda, tidak lazim atau apa pun yang tidak umum di mata masyarakat. Yang jelas, ketika aku kuliah ke Bandung, bertemu dan berbaur dengan beragam etnik Indonesia, baru aku dengar stigma-stigma “aneh” tentang masyarakat Sunda. Aku dengar hal-hal yang aku pikir, masak sih? Nampaknya ada stereotip yang menancap dalam pada urang Sunda yang aku sendiri masih suka mempertanyakan. Tapi yang jelas, karena selama proses tumbuh dan dewasaku di lingkungan multi-etnik, aku pada akhirnya memiliki pengetahuan dan wawasan yang jauh lebih luas.

Istriku berasal dari etnik yang campursari. Lima puluh persen batak karena ayahnya bermarga Lubis, tepatnya mandailing tepatnya lagi (katanya) Pakantan, 25% betawi dan 25% aceh. Jadi anak-anakku akan memiliki komposisi, paling tidak Sunda 50%, batak 12,5% dst dst….. Wah, masak kayak gini dikuantifikasi?

Entahlah apa yang menyatukan kami berdua. Sebenarnya kami sama-sama memiliki watak keras. Tentu saja dengan darah Sumatera yang mengalir di istriku, dengan sendirinya kekerasan tersebut sudah ada. Lha, aku sebagai orang Sunda malah terhitung punya watak keras juga. Tapi justru di situlah awal mula aku menyukai istriku. Saat awal kenal dulu, aku suka dengan gaya dia yang keras tapi cekatan, lugas, gesit dan serba ringkas…. Tak tahulah aku, mengapa istriku menerima aku sebagai suaminya. Padahal dia dahulu paling sebal dengan orang Sunda…. Dunia memang punya rahasianya sendiri.

Nah, sampai saat ini, sudah 7 tahun kami menikah, masih pada tahap mencari blending-an yang pas. Kalau chemistry-nya, Insya ALLAH kuat. Tahu kan ? Makanya jangan heran sampai hari ini, kami masih suka berantem, baik yang rame maupun yang diam-diaman…. Tapi, ya itulah kata orang tua, sendok dan garpu suka gemerincing beradu di atas piring…. Meskipun kalau sedang ribut rasanya menderita sekali, tapi setelah baikan, rasanya seperti bulan madu lagi…

Peun.

Posted by: ahmadsaef | Maret 27, 2008

Salam Pembukaan

Assalamualaikum ….

Keselamatan dan kesejahteraan semoga dilimpahkan untuk kita semua

Bismillah…

Aku mulai memberanikan diri untuk melakukan aktivitas di dunia web melalui wordpress ini. Aku pikir setiap orang harus punya jejak yang ditinggalkan, ibarat pepatah : gajah mati meninggalkan gading dan harimau mati meninggalkan belang, maka…. manusia mati, tentu saja, minimal, meninggalkan nama. Tapi, what kind of name ? Itu adalah pilihanku untuk menentukan…. Aku pikir sebelum menentukan pilihan, aku harus membuat terlebih dahulu kesempatan. Kalau ada orang bilang hidup adalah perkara menentukan pilihan, maka aku bilang hidup adalah perkara membuat kesempatan. Pilihan ada karena manusia punya kesempatan. Artinya, pilihan bisa kita “atur” dengan aktif dan giat dalam membuat kesempatan.

Oke, kembali ke laptop….

So, aku mau meninggalkan apa? Untuk siapa? For human kind? Absolutely! Idealnya memang untuk umat manusia. Seperti seorang Muhammad yang meninggalkan Al-Quran dan Al-Hadits bagi umat Islam di muka bumi. Tentu dalam jangka panjang aku berusaha untuk dapat memberikan manfaat bagi manusia, tetapi yang aku pikirkan sekarang adalah manfaat untuk lingkungan terdekat, keluarga…. Aku ingin meninggalkan suatu hal yang dapat digunakan untuk keluargaku, terutama anak-anakku, yang dapat memberikan pencerahan pemikiran, wawasan, pengetahuan yang mungkin tidak akan mereka peroleh melalui lingkungan formal.

Lho, mengapa tidak dilakukan langsung saja di rumah? Kan sehari-hari sudah berada di rumah, berinteraksi dengan anak istri? Ya, hal tersebut memang sudah aku lakukan, tapi di era teknologi seperti saat ini, rasanya hal tersebut kurang recordable sementara ada wadah yang bisa digunakan untuk merekam polah tingkah manusia di manapun, kapan pun melalui media cyber

Aku coba sekarang. Aku akan menulis, mencatat, merekam dunia melalui kaca mataku untuk nanti, suatu saat akan dilihat juga oleh anak-anakku, dan mudah-mudahan dapat memberikan hikmah yang sama dan memberikan manfaat sehingga hari esok mereka lebih baik.

Peun.

Kategori