Sudah lewat satu bulan aku tidak posting tulisan. Sejak tulisan pertama, banyak yang ingin aku tuangkan, tetapi karena waktu terbatas, semua menjadi angan-angan belaka. Saat ini, meski pikiran masih kosong, aku beranikan untuk mulai ketak-ketik, siapa tahu bisa jadi tulisan yang bermanfaat (pada akhirnya).
Entahlah. Selama satu bulan ini, beragam pengalaman aku lewati dan rasakan. Dari mulai situasi lalu lintas Jakarta yang semakin macet dan semrawut hingga situasi hati dan pikiran yang berputar-putar. Ya. Beberapa waktu ini pikiranku agak carut marut. Utamanya karena aku kembali merenungkan, apa yang aku lakukan selama ini sudah memberikan manfaat terbaik untuk lingkungan? Tentu saja, prioritas adalah untuk keluargaku : istri dan anak-anakku. Aku coba menyusun ulang secara singkat riwayat perjalananku selama ini. Apakah ada artinya untuk mereka? Dalam banyak hal, aku sangat yakin bisa memberikan manfaat, tapi ada satu hal yang kritikal dan krusial –yang meskipun hanya terjadi sekali– justru memberikan dampak tidak baik dan terasa hingga sekarang. Seorang teman, melalui forum friendster, mengatakan : “at least you make the right thing for your life, even sometimes the way you through seemed so rough & difficult :)”
Nah. Pada dasarnya aku pernah mengambil keputusan atas suatu situasi yang aku rencanakan dengan tujuan untuk mengurangi resiko yang mungkin akan aku hadapi bila saatnya tiba. Meskipun aku punya alibi, tetapi yang di luar perkiraanku adalah ternyata aku harus menghadapi resiko lain yang lebih hebat dan memberikan akibat pada keluargaku. Sampai hari ini, aku belum bisa mengembalikan situasi menjadi sama dengan saat aku sebelum mengambil keputusan tersebut. Kami masih belum normal…
Sesungguhnya keputusan itu aku ambil hanya untuk idealisme. Aku ingin mendapatkan kepuasan pribadi dalam hal profesionalisme, karir dan pekerjaan. Sementara di sisi lain, aku khilaf, bahwa aku tidak sendiri lagi. Di belakangku berdiri istri dan dua anakku ikut menanggung akibat yang timbul karena adanya resiko tak terduga. Tak terduga lebih karena aku terlalu pe-de, percaya diri…. Dan hari ini, setelah semua yang kami alami, kami masih harus terus berjuang…
Apapun, aku bersyukur kami –sampai saat ini– berhasil melewati masa-masa penuh resiko tersebut. Banyak hikmah yang aku peroleh. Aku memandang dunia secara berbeda ketimbang waktu sebelumnya.
Ya ALLAH, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin…..
Ditulis dalam masa-KINI